Di era digital yang serba cepat ini, di mana informasi dapat diakses hanya dengan satu sentuhan layar, keberadaan fisik sebuah buku cetak terkadang mulai terpinggirkan. Namun, di perpustakaan dan ruang kelas SMPN 2 Lumajang, ada sebuah pemandangan yang menghangatkan hati: para siswa yang telaten melakukan seni menambal lembaran kertas yang mulai lepas. Tindakan ini bukan sekadar upaya penghematan, melainkan sebuah bentuk penghargaan terhadap ilmu pengetahuan dan pengakuan bahwa sebuah barang lama sering kali memiliki nilai yang jauh melampaui harga belinya di toko.
Menambal buku di sekolah ini telah menjadi semacam tradisi kecil yang dilakukan secara turun-temurun. Ketika sebuah buku paket atau novel di perpustakaan mulai robek sampulnya, siswa di SMPN 2 Lumajang tidak langsung membuangnya. Mereka menggunakan selotip bening, lem kertas, bahkan terkadang kertas kado bekas untuk memberikan “nyawa kedua” bagi buku tersebut. Proses ini membutuhkan ketelitian dan kesabaran—sebuah seni dalam menjaga sesuatu agar tetap utuh dan fungsional di tengah gempuran budaya konsumerisme yang mengajarkan kita untuk selalu membeli yang baru.
Mengapa barang lama seperti buku yang sudah kusam ini begitu berharga? Jawabannya terletak pada jejak-jejak sejarah yang ada di dalamnya. Di margin halaman sebuah buku teks di SMPN 2 Lumajang, kita mungkin menemukan catatan kecil milik kakak kelas beberapa tahun lalu, atau coretan pensil yang membantu memahami rumus sulit. Jejak-jejak ini menciptakan koneksi emosional antara pembaca masa kini dengan pembaca masa lalu. Dengan melakukan seni perbaikan, siswa saat ini seolah sedang merawat warisan intelektual yang akan diteruskan lagi kepada adik kelas mereka nantinya.
Selain nilai historis, kegiatan ini juga mengajarkan kemandirian dan keterampilan tangan bagi siswa SMPN 2 Lumajang. Di tengah tren serba instan, belajar bagaimana memperbaiki sesuatu yang rusak adalah pelajaran hidup yang sangat penting. Mereka belajar bahwa kerusakan pada sebuah buku tidak berarti akhir dari manfaatnya. Hal yang sama berlaku dalam kehidupan; kegagalan atau kekurangan bisa diperbaiki dengan usaha dan kreativitas. Inilah pesan filosofis yang tersirat dari setiap lembaran yang ditempel kembali dengan hati-hati.
