Pengalaman pahit menghadapi erupsi dan bencana di masa lalu menjadi pelajaran berharga bagi warga Lumajang. SMPN 2 Lumajang kini mengambil inisiatif unik yang berlandaskan empati. Mereka mengirim surat dukungan psikososial kepada korban longsor Sumatra, membagikan trauma bencana dulu yang mereka alami sebagai bentuk solidaritas.
Lumajang, khususnya SMPN 2, telah mengalami langsung dampak psikologis dari bencana alam, seperti letusan gunung berapi yang menghancurkan. Pengalaman trauma bencana ini membuat para siswa Lumajang memahami betul perasaan kehilangan dan kecemasan yang kini dialami oleh korban longsor Sumatra.
Surat dukungan psikososial ini berisi pesan-pesan yang menguatkan, cerita tentang bagaimana mereka bangkit kembali, dan tips praktis untuk mengatasi perasaan cemas. Pesan-pesan tersebut ditulis tangan oleh setiap siswa SMPN 2 dan dihias dengan gambar-gambar penuh harapan. Ini adalah bantuan dari hati ke hati.
Inisiatif mengirim surat ini merupakan bagian dari program trauma healing berbasis komunitas yang diadopsi SMPN 2. Tujuannya adalah mengajarkan siswa bahwa pengalaman pahit dapat diubah menjadi kekuatan untuk membantu orang lain. Surat ini menjadi jembatan emosional antar pulau.
Pesan utama yang ingin disampaikan oleh siswa Lumajang adalah bahwa trauma dapat disembuhkan, dan masa depan yang lebih baik pasti akan datang. Dukungan psikososial dari sesama remaja memiliki dampak yang jauh lebih kuat daripada yang disampaikan oleh orang dewasa. Ini adalah bahasa hati yang universal.
Langkah SMPN 2 Lumajang ini mendapatkan apresiasi dari PMI setempat. Metode dukungan ini dianggap efektif karena memberikan rasa divalidasi kepada korban. Mereka merasa tidak sendirian karena ada yang mengerti persis apa yang mereka rasakan.
Korban Longsor Sumatra yang menerima surat ini tidak hanya mendapatkan kata-kata motivasi, tetapi juga bukti nyata dari solidaritas nasional. Pengalaman bencana dulu Lumajang kini menjadi energi positif yang menguatkan Sumatra.
Sekolah berharap inisiatif psikososial ini dapat membantu mengurangi beban mental korban longsor. Surat yang dikirim adalah bukti bahwa setiap pengalaman, bahkan yang paling sulit sekalipun, dapat menjadi alat kebaikan untuk sesama.
